Berawal Dari Ajakan dan Cerita

June 9, 2009 Rina Anita Lusiana

Tak terasa hampir 5 tahun sudah aku berada di Sekolah Alam Bogor. Berawal ketika kakakku menawarkan sebuah pekerjaan sebagai seorang pendamping anak special needs di sebuah sekolah yang bernama Sekolah Alam dan aku pun mengambil tawaran yang diberikan kakakku itu, meski pada waktu itu yang aku ketahui tentang anak special ini hanya seditkit sekali yaitu dari cerita teman kuliahku dan artikel yang di berikan kakakku aku pun melamar.

Setelah melalui beberapa tahap seleksi kini aku harus mengikuti tahapan observasi ke sebuah klinik di Depok selama 2 hari berasama teman-teman baruku yakni Inda, Dewi, Dede, Ayu, Lia dan Aroh. Hari ke tiga kami bertujuh mengikuti pelatihan bersama Bu Wati. Selama 2 hari observasi dan mengikuti pelatihan pengetahuanku tentang anak special needs ini pun bertambah. Dan beberapa hari kemudian Bu Wati pun mengumumkan bahwa aku mendampingi Endy, Inda mendampingi Raffi, Dede mendampingi Daffa, Dewi mendampingi Irsyad, Aroh mendampingi Janu, Ayu mendampingi Dimas dan Lia mendampingi Husein.

“Akan seperti apakah anak yang aku damping?” itu perkataan yang sering Inda ucapkan disaat menunggu hari-hari pertemuan kami dan anak-anak special needs ini. Namun aku tidak pernah menanyakan hal itu pada diriku karena aku yakin aku sudah cukup mengetahui banyak tentang anak-anak ini dan aku yakin aku dapat mendampingi Endy dengan baik dan tanpa masalah.

Hari itu pun tiba, hari dimana pendamping bertemu dengan anak yang akan di dampinginya yaitu hari pertama masuk sekolah. Dan di saat itulah aku mulai bertanya pada diriku sendiri “Akan seperti apakah anak yang aku damping?”. Jantungku mulai berdetak kencang dan tanganku mulai dingin, aku takut jika aku tidak dapat mendampingi anak ini dengan baik aku mulai merasa tidak percaya diri.

Selama aku berperang dengan rasa ketidak percayaan diriku yang tiba-tiba muncul ini, tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku dan ketika ku menoleh aku melihat Inda membawa seorang anak yang memakai topi berwarna putih dan di belakangnya ada seorang gadis yang mengikuti. Ku pikir ia adalah anak yang akan Inda damping namun ternyata ia adalah Endy. Lalu Inda pun mengenalkan kami.

Setelah aku dan Endy berkenalan aku pun mengajaknya ke kelas untuk menyimpan tas dan megajaknya bermain. Dan aku masih ingat setiap Endy melakukan tindakan yang menurutku tidak sesuai maka aku dengan keras akan mengatakan “TIDAK!” dan hal itulah yang membuat orang tua merasa terkaget-kaget melihat cara penangananku, mereka merasa bahwa aku ini galak terhadap anak kecil namun hal itu bisa di pahami karena mereka belum tahu tentang anak yang aku damping ini. Dan setelah pihak sekolah menjelaskan maka para orang tua pun memakluminya.

Pada waktu itu hal yang paling di sukai Endy adalah berlari dan melihat mobil. Masih segar dalam ingatanku sebarapa sering aku mengejar Endy. Bayangkan saja baru saja duduk beberapa menit Endy akan berlari lagi. Maka aku pun harus bergerak lebih cepat dari Endy sedikit saja aku meleng maka Endy akan berlari. Maka agar aku tidak terlalu capai ketika Endy lari aku berteriak sekeras mungkin memanggil namanya dan jika Endy tidak kembali maka aku akan mengejarnya. Dan jadilah beberapa bulan di Sekolah Alam terdengar suara teriakan “ENDY!”. Alhamdulillah frekuensi berlari Endy mulai berkurang dan ia mulai mengikuti pelajaran. Kini Endy hanya berlari ketika freeplay, waktu selesai makan dan waktu selesai solat.

Tempat yang paling di sukai oleh Endy adalah TK B (lantai ke-2) karena dari situ Endy dapat melihat mobil-mobil berjejer di parkiran.

Dan suatu hari terjadilah hal yang membuat aku panik bukan kepalang. Di hari itu jalan menuju sekolah arah belakang (parkiran) ditutup oleh portal dan otomatis mobil-mobil tidak ada yang bisa masuk area parkiran. Teman-teman kecil dan guru-guru yang menggunakan kendaraaan datang dari arah depan, mereka tidak bisa datang dari belakang. Endy yang biasanya tidak banyak berlari maka hari itu ia pun mulai berlari di tengah pelajaran dan menaiki tangga TK B. Ketika itu aku sangat kesulitan mengajak Endy untuk kembali ke kelas hingga aku harus menunggu waktu beberapa menit agar Endy merasa bosan dan turun sendiri. Ternyata benar apa yang ku pikirkan setelah hampir 15 menit Endy turun dan kembali ke kelas dan melakukan aktifitas seperti biasa. Namun setelah makan siang dan menunggu waktu solat dzuhur, Endy mulai naik ke lantai atas TK B dan aku pun membiarkannya karena ku pikir ia akan turun jika merasa bosan. Karena merasa Endy sudah terlalu lama di sana aku pun menyusul dan memintanya untuk turun.

Dan hal yang membuat aku panik adalah ketika aku turun, aku tidak menemukan Endy di mushola dan di dalam area sekolah. Sekeras apapun aku memanggil Endy tidak datang menghampiriku, aku sangat panik sekali. Entah kenapa aku melangkahkan kaki ini ke area parkiran padahal aku tahu di sana tidak ada mobil. Aku terus berteriak memanggil nama Endy dan syukurlah ada seorang nenek (neneknya Nanda) memberitahukan aku bahwa Endy baru saja lewat di depannya dan ia berlari menuju arah portal. Secepat kilat aku berlari menyusul Endy dan berteriak sekeras-kerasnya memanggil nama “ENDY!”, ia pun menoleh. Namun ia malah semakin mempercepat laju larinya dan tertawa riang. Maka aku pun semakin mempercepat lariku. Kalau ku pikir itu adalah lari tercepatku selama aku bersama teman-teman special needs. Semakin ku percepat lari Endy pun semakin mempercepat larinya dan itu membuatku harus 2x lebih cepat dari lari Endy dan akhirnya aku pun berhasil menangkap Endy namun aku masih kesulitan untuk mengajaknya kembali ke sekolah. Lalu aku bertanya padanya “Endy mau apa? Endy mau kemana?” Ia pun menunjuk ke arah portal dan mengatakan “Pulang”. Ku pikir ia hanya ingin ke arah portal dan melihat mobil yang lewat maka aku pun mengabulkannya.

Aku mengajak Endy ke arah portal dan memintanya kembali setelah melihat mobil. Namun apa yang terjadi di luar dugaanku. Endy terus berjalan dan hendak menyebrangi jalan, aku berusaha untuk mencegahnya dengan memeluk badannya tapi ia berontak dan berlari lagi namun aku berhasil memegang tangannya. Ia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tanganku dengan berusaha menggigit tanganku, aku berusaha sekuat tenaga dengan memegang dinding agar badanku tidak terbawa oleh badan Endy dan berusaha agar tanganku yang 1 tidak digigit olehnya. Karena merasa tidak bisa menangani Endy maka aku berteriak minta tolong pada seorang pedagang (pemilik warung ADVA) agar memanggilkan seseorang dari sekolah. Ketika itu aku merasa malu sekali karena aku takut pandangan orang terhadap Sekolah Alam ini buruk ketika melihat aku dengan Endy yang saling tarik menarik. Sebenarnya aku ingin melepaskan Endy namun jika aku melepaskannya aku takut ia akan tertabrak oleh mobil dan jika aku memeluk badannya maka aku akan terbawa olehnya. Dengan menahan rasa malu dan panik aku terus memegang tangan Endy sambil berharap ada yang datang menolongku.

Beberapa menit kemudian datanglah Pak Fahmi. Awalnya Pak Fahmi merasa kesulitan untuk mengajak Endy kembali ke sekolah karena Endy selalu berontak ia selalu meliuk-liukkan tubuhnya di saat Pak Fahmi mencari celah untuk membawanya. Namun akhirnya Endy pun bisa di bawa kembali ke sekolah dengan cara di gendong (meski dalam gendongannya Pak Fahmi Endy terus berontak dan berusaha menggigit pinggangnya Pak Fahmi). Tiba di sekolah Endy tantrum hebat, aku dan beberapa teman berusaha untuk menenangkannya. Alhamdulillah setelah tenang Endy pun melakukan solat dzuhur berjamaah dengan teman-teman.

Hal lain yang tidak bisa aku lupakan dari Endy adalah mie Remez dan Taro karena kedua makanan itulah makanan pokok bagi Endy, Ia sama sekali tidak mau menyentuh nasi. Saat mentreatmennya untuk mau makan nasi. Setiap waktu makan siang maka aku dan Dewi pergi ke mushola sambil membawa Endy dan nasi yang dibawanya dari rumah. Kami mencari cara bagaimana agar Endy mau makan nasi, mulai dari memaksanya sampai hanya memintanya memegang nasi. Dan Alhamdulillah mulai ada perkembangan Endy mulai mau memasukkan nasi dan meletakkannya di lidah dalam beberapa menit namun setelah itu di buangnya lagi tapi bagiku itu adalah sebuah perkembangan karena pada awalnya Endy sangat jijik sekali jika bersentuhan dengan nasi.

Hal lain yang tidak bisa aku lupakan adalah ketika kemping. Ini adalah kemping pertama bagi Endy dan aku. Sepertinya hari itu adalah pengalaman kemping pertama yang menyenangkan buat kami berdua. Kami berdua sangat menikmati kemping itu. Padahal awalnya aku berpikir bahwa Endy tidak akan nyaman jika harus tidur di tenda yang harus berdesak-desakkan dengan teman-temannya. Namun ia sangat menikmati seluruh kegiatan.

Dan aku juga tidak bisa melupakan pengalaman kemping ke-2 kami. Untuk merayakan akhir semester sekolah mengadakan kemping ke luar sekolah yang di adakan di Cibodas. Ketika kami baru sampai dan akan beristirahat tiba-tiba saja Endy berlari dan akan masuk ke arah sungai. Spontan aku mengejarnya dan Pak Fahmi membantuku. Setelah Pak Fahmi menangkapnya aku, Pak Fahmi dan Dewi berusaha menenangkan Endy, tidak lama kemudian ia tenang. Setelah semua berkumpul kami pun mendirikan tenda dan memasukkan barang-barang bawaan. Endy pun mengikuti seluruh kegiatan dengan baik, ia terlihat senang sekali ketika di hari kedua teman-teman kecil di perbolehkan untuk bermain di sungai.

Setelah kemping dan bagi raport kami pun libur dan selama libur aku sangat merindukan Endy. Aku merindukan cara ia memanggil namaku, saat aku berlari dan memanggil namanya serta melihatnya tertawa riang. Namun aku mendapatkan berita bahwa di tahun ajaran kedua ini aku tidak lagi mendampingi Endy. Meski sedih tapi aku tidak bisa berbuat banyak karena yang menentukan bukanlah aku. Dan aku pikir pihak sekolah lebih tahu mana yang lebih baik buat kami berdua.

Di tahun kedua aku mendampingi Dea. Ia adalah murid special needs perempuan pertama di sekolah ini. Berbeda dengan Endy yang selalu mengajakku untuk bergerak dan memutar otak. Dengan Dea aku belajar tentang kesabaran, pada waktu itu setiap hari aku harus mengendalikan rasa ketidaksabaranku karena Dea hanya mau melakukan kegiatannya dan kami selalu bernego. Namun aku tidaklah lama mendampingi Dea karena beberapa bulan kemudian (sekitar 3 bulanan) terjadi pergantian pendampingan. Dan aku diminta pihak sekolah untuk mendampingi Husein.

Husein berbeda sekali dengan Dea namun hampir sama dengan Endy. Husein tidak suka dan jijik dengan nasi namun Husein suka sekali makan Burger, kentang, sosis dan susu. Husein sudah dapat di ajak bernego. Setiap hari kami selalu bercanda dan ia masih suka minta perlindungan jika di ganggu oleh teman-temannya.

Pada waktu itu tempat intensif telah disediakan dan pendamping beserta anak yang di dampinginya di haruskan melakukan intensif di ruangan itu. Husein tidak suka belajar intensif karena ia merasa kenapa ia harus belajar di tempat yang tidak sama dengan teman-temannya, Maka kami membuat kesepakatan kami belajar intensif di kelas namun di pojokkan dan ia pun menyepakatinya.

Hal lain yang tidak dapat terlupakan dari Husein adalah ketika kemping akhir semester. Di saat menjelang kemping kami (Pak Hadi, Bu Mia, aku, dan Dika) setiap hari menceritakan tentang kemping pada teman-teman kecil. Dan yang paling mengejutkan adalah ketika aku mendapat kabar bahwa abang Husein meminta ijin kepada orang tuanya untuk dapat ikut serta dalam acara kemping akhir semester yang di adakan di Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Kami semua guru di kelas merasa kaget dan senang karena Husein dapat ikut serta. Dan di sana Husein mengikuti seluruh kegiatan acara, ia bermain sangat gembira dan ia juga memperingatkan teman-temannya agar tidak mendekati bibir pantai.

Di tahun ketiga dan keempat aku dipercaya oleh pihak sekolah untuk menjadi fasilitator pos dalam bidang akademis (matematika). Di pos inilah aku banyak belajar tentang karakteristik anak karena setiap teman-teman kecil yang masuk ke dalam pos memiliki karakter dan prilaku yang berbeda-beda. Teman-teman kecil yang masuk pos pun bukanlah hanya anak special needs saja tapi anak regular yang membutuhkan latihan secara intensif.

Banyak hal yang tidak dapat aku lupakan, diantaranya jika ada teman yang tidak mau belajar maka aku harus memutar otak mencari cara bagaimana teman kecil ini agar mau belajar dengan baik. Mulai dari menenangkan teman yang tantrum sampai bernego dengan beberapa teman yang sudah pandai bernego. Jika ada teman yang tidak masuk sekolah atau mereka melakukan kunjunagan edukatif dan home visit maka mereka tidak akan masuk pos dan waktuku pun menjadi luang. Untuk mengisi waktu luangku aku biasanya berkunjung ke kelas-kelas khusus murid special needs untuk melihat cara belajar mereka atau jika ternyata kelas-kelas khusus sedang tidak ada di kelas maka aku akan menghabiskan waktu berbincang-bincang dengan fasilitator pos bahasa, motorik halus dan manager. Pembicaraan kami seputar cara penanganan terhadap teman-teman kecil special needs. Dan jika waktu masih sangat luang maka aku akan bermain keyboard.

Di tahun kelima ini aku dipercaya oleh pihak sekolah untuk menjadi fasilitator kelas khusus anak special needs. Aku memeiliki seorang asisten bernama Condri dan 3 guru pendamping bernama Deni, Dari dan Lia. Dan memiliki 3 anak special needs bernama Odi, Ary dan Hilal. Yang dimana Deni mendampingi Odi, Lia mendampingi Ary dan Dari mendampingi Hilal. Aku memberikan nama Matahari pada kelas ini karena aku berharap teman-teman kecil dapat memberi cahaya pada semua orang. Namun tidak terlalu lama kelas ini pun mengalami pergantian guru pendamping karena Lia harus keluar dikarenakan ia sedang hamil dan selalu sakit. Maka dalam beberapa bulan masa pencarian pendamping Condri pun berubah tugas menjadi pendamping Ary. Dan tidak lama kemudian masuklah anggota keluarga kelas Matahari yang baru bernama Agus.

Tak lama setelah Agus menjadi anggota keluarga baru kelas Matahari, kami pun kedatangan anggota keluarga baru yang beberapa bulan lalu Ia terpaksa harus mengikuti kedua orang tuanya ke Kalimantan, yaa.. Dia adalah Aril. Dan untuk mengisi kekosongan pendamping maka Condri pulalah yang akan mendampingi Aril untuk sementara waktu. Setelah beberapa hari maka diputuskanlah yang mendampingi Aril adalah Rendhy. Maka anggota keluarga kelas Matahari pun bertambah.

Setiap anggota keluarga Matahari memiliki karakter dan prilaku yang berbeda mulai dari guru sampai teman-teman kecil. Setiap hari ada saja kejadian yang mewarnai kelas ini.beberapa diantaranya anak yang tantrum, anak yang pipis atau pup tapi tidak dapat mengutarakannya, anak yang tidak mau makan, dan anak yang berlari di saat pembelajaran. Namun tidak hanya hal negative yang di keluarkan teman-teman kecil ini mereka juga suka bercanda, terkadang mereka memperingatkan teman dengan cara mereka sendiri dan membantu hal-hal yang menurut kita itu adalah hal kecil. Misalnya ketika Hilal tidak duduk rapih maka Odi memintanya melipat kaki dengan cara memegang kaki Hilal lalu melipatnyadan kedua mata mereka pun berpapasan lalu Hilal pun duduk bersila. Adapula ketika Odi lupa untuk merapihkan meja maka Ary membantunya melipat meja dan meletakkan di tempat yang seharusnya.

Banyak sekali kejadian-kejadian lucu dan kejadian yang harus melibatkan pengendalian emosi yang mewarnai kelas Matahari ini. Aku sangat mencintai teman-teman kecil ini dan aku sangat berterima kasih kepada para pendamping yang telah berusaha dengan baik dalam mendampingi teman-teman kecil ini.

Aku berharap suatu saat kelak kalian dapat berdiri sendiri, kalian dapat mengutarakan keinginan dengan baik dan kalian dapat membuktikan pada orang-orang bahwa kalian adalah sama seperti mereka. Meski nanti kalian tidak akan mengingat kami tapi kalian akan selalu aku ingat untuk selamanya. Karena dari kalianlah aku telah berubah menjadi aku yang sekarang ini.

Entry Filed under: Curhat

1 Comment Add your own

Leave a Comment

Required

Required, hidden



Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <p> <br>

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed



Pages

Categories

Calendar

June 2009
M T W T F S S
     
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Most Recent Posts